Makna Lebaran di Mata si Kecil

BAGI anak-anak, Lebaran dikaitkan dengan momentum sukaria dan kegembiraan. Makan enak, baju baru, jalan-jalan, 'salam tempel', adalah gambaran tentang Lebaran di pikiran polos bocah-bocah tersebut. Tapi, apakah harus selalu begitu? Yuk, ajarkan si kecil makna Lebaran sesungguhnya!



Tradisi 1: Baju Baru

"Asyik, nanti aku beli baju baru empat ya, ma? Biar aku pakai semua pas Lebaran..." teriak girang seorang bocah cilik.

Baju baru, rasanya sudah menjadi tradisi saat Lebaran. Bahkan, ada anak yang menangis dan berontak ketika dipakaikan baju lama karena melihat semua temannya memakai baju baru. Duh, bagaimana ini?

Memang, Idul Fitri atau Lebaran sering diidentikkan dengan kembali pada hakikat manusia yang sesungguhnya: manusia yang bersih seperti bayi, alias kembali ke fitrah-nya sebagai manusia yang ber-Tuhan.

Dikatakan Clara Moningka, S.Psi, M.Si dari Universitas Indonusa Esa Unggul, Jakarta, hakikat ini lah yang seharusnya diajarkan kepada anak.

"Baju baru adalah simbol semata. Simbol ke'baru'-an atau bersih. Namun, tak berarti dengan memakai baju baru kita akan bersih," katanya. Artinya, dengan memakai baju lama pun, seorang anak pantas untuk merayakan Lebaran.

Yup, terkadang stimulus dari lingkungan yang membentuk anak terbiasa dengan baju baru. Misal, orangtua selalu membiasakan membeli baju baru, tanpa memberikan pengertian. Atau, anak kerap melihat stimulus dari lingkungan, dimana tetangga atau masyarakat yang membeli baju baru saat Lebaran. Nah, pembiasaan tersebut lah yang pada akhirnya membentuk pandangan atau persepsi bahwa Lebaran identik dengan baju baru.

Agar anak tak melulu salah tangkap, orangtua bisa menjadi contoh dengan tidak memakai baju baru saat hari Lebaran. Pakailah baju yang masih pantas dan bersih untuk salat dan silaturahmi.

Dengan social learning tersebut, sangat memungkinkan, anak akan bertingkah laku sama seperti orangtua. "Dengan tidak merasa gengsi atau malu memakai baju lama, makna Lebaran akan terasa lebih besar. Bukan sekadar baju baru atau makanan berlimpah melainkan sebagai kemenangan dalam hati," papar Clara.

Tradisi 2: Angpau

Laiknya baju baru, hari raya di Indonesia selalu identik dengan angpau atau 'salam tempel'. Padahal, makna sesungguhnya lewat pemberian angpau tersebut adalah berbagi kebahagiaan.

Akan lebih baik lagi, jika uang tersebut dibagikan kepada mereka yang tidak mampu, agar dapat merasakan Lebaran. Libatkan si kecil saat Anda menyisihkan angpau untuk dibagi-bagikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan.

Dengan begitu, si kecil akan memaknai Lebaran sebagai momen memberi kebahagiaan kepada orang lain atau berbagi. Bukan malah menganggap bahwa Lebaran adalah saat untuk ‘jajan’ banyak karena mendapat uang berlebih dari sanak saudara.

Perlu diingat, berbagi kebahagiaan pada anak tak harus dilakukan dengan memberikan uang. Clara memberi contoh, anak-anak di Turki malah mendapat permen atau coklat saat Idul Fitri. Di Amerika Utara, anggota keluarga juga saling bertukar hadiah untuk menandakan keeratan atau ikatan dalam keluarga. Intinya, tradisi pemberian angpau atau berbagi boleh-boleh saja asal disesuaikan dengan kemampuan. Bila tidak ada, ya jangan dipaksakan!

Tradisi 3: Mudik

Pulang kampung, juga menjadi tradisi. Walau terlihat sepele, ada baiknya memberikan pemahaman kepada anak esensi di balik mudik ini. Katakan kepada anak bahwa bertemu sanak saudara bukan tanpa maksud, bukan sekadar berkumpul untuk bersenang-senang. Lebih daripada itu: menjaga silaturahmi.

Juga merupakan momen tepat untuk memperkenalkan sebagian besar anggota keluarga yang selama ini masih belum dikenal oleh anak.

Dengan begitu, perlahan-lahan, anak mengerti bahwa Lebaran adalah event yang baik untuk menyambung tali silaturahmi dan saling memaafkan. Yang terpenting, tekankan pada anak bahwa setelah Lebaran berakhir, silaturahmi tetap terjalin. Artinya, rasa saling memiliki, memaafkan, harus tetap ada dan dipupuk.

"Ajarkan bahwa Idul Fitri sebenarnya mengingatkan kita untuk menjalin dan menjaga hubungan dengan sesama hingga Idul Fitri selanjutnya," ungkap Clara.

Tradisi 4: Makan Enak

"Pokoknya pas Lebaran makan enak deh, sampai sakit perut..."

Waduh, jangan sampai kejadian dong. Hindari anak berpikir bahwa Lebaran adalah saat untuk berfoya-foya dengan makanan. Caranya? Jangan memasak berlebihan! Sesuaikan dengan anggota keluarga yang datang. Tak perlu bermewah-mewahan, cukup seperlunya saja.

Atau, Moms bisa juga mengajarkan berbagi lewat makanan. Misal, libatkan si kecil untuk membagikan ketupat atau makanan khas Idul Fitri kepada tetangga, sebagai rasa syukur atas rejeki dan atas hari yang istimewa tersebut. Selain itu, daripada makanan berlimpah dan pada akhirnya dibuang, lebih baik menjadi berkah untuk sesama, bukan?

sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...